Soal Macet: Kicauan si Kelas Menengah Ngehe

Sampai capek kalau mulai mikirin soal yang satu ini. Saya hidup di Jakarta sejak 2003 hingga 2012, mulai dari Kebagusan Pasar Minggu, Depok, Setiabudi, Karet, sampai akhirnya pindah ke Serpong. Saya awali hidup di Jakarta dengan naik angkot dan bus, setiap hari hingga sekitar tahun 2007 awal saya masih setia dengan angkutan umum. Kemudian saya membeli motor CB gelatik tahun 1973, setelah dibenerin akhirnya sampai bisa dipakai setiap hari sampai sekitar tahun 2008, lalu saya pindah ke Kuching, tinggal di sana beberapa bulan lalu balik lagi ke Jakarta, mulai naik angkutan umum lagi sampai akhirnya saya membeli sepeda motor. Lalu saya menikah, akhirnya saya dan istri memutuskan untuk membeli mobil bekas tahun 1998. Lalu kurang dari setahun kemudian, ganti mobil lagi, kali ini mobil baru.  Episode kehidupan di Jakarta untuk sementara ini berakhir beberapa bulan lalu ketika kami sekeluarga pindah ke Singapura.

So what? Saya sudah bebas dari segala kemacetan itu, lalu sekarang ngapain pake nulis blog buat komentar? Saya cerita (niatnya sih) sedikit saja, runutan peristiwa dari pertama kali saya ke Jakarta hingga sekarang, sebagai bagian dari kelas menengah ngehe’ sepertinya saya perlu kasih sumbang suara sumbang..

Tahun 2003, uang saku saya 100 ribu buat sebulan, naik bis seribu perak dari Kebagusan ke Depok, naik kereta juga sama kadang-kadang ngalong alias gak bayar. Praktis uang segitu gak cukup buat bayar tapsi, atau beli motor. Waktu itu sesekali saya pergi ke Glodok buat beli komponen elektronik di Plasa Pinangsia, kadang juga ke Poncol, Senen buat beli komponen dan motor DC bekas mesin fotokopi. Bagaimana kondisi lalu lintas? Macet, tapi masih nyaman aja tuh, saya biasa naik mikrolet M16 Pasar Minggu – Kampung Melayu, kadang naik bis sampai Grogol lewat Gatsu, ga ada masalah.

Tahun 2006 setelah lulus saya kerja di Cilandak, naik kopaja 63, Depok – Blok M, lewat Margonda, Jalan Raya Pasar Minggu (Tanjung Barat) lalu belok ke arah Cilandak. Macet? Lumayan macet, tapi gak pernah telat sampai kantor. 

Tahun 2007 saya kerja di Mampang, kadang naik Transjakarta dari Halte Pertanian, sampai Mampang. Macet? Lumayan macet dari Depok ke Pasar Minggu, tapi masih oke, cuman kadang agak kecapekan soalnya pulang malam, dan LDRan (malah curhat). Akhirnya saya beli motor CB itu, saya pakai tiap hari dari Kelapa Dua Depok – Mampang, barulah saya tahu rasanya naik motor lewat Warung Buncit, Mampang setiap hari, macetnya luar biasa, edan! Tapi saya tetep masih cengengesan saja, masih enjoy dengan peluh yang tak kunjung luruh diterpa angin riuh …

Saya pindah kerja ke kantor di Tanjung Duren yang jaraknya kurang lebih 30 km dari Kelapa Dua Depok. Saya lewat Jalan Raya Pasar Minggu, Pancoran, Gatsu, Slipi, Grogol hingga Tanjung Duren. Masih setia dengan kendaraan yang sama yaitu CB Gelatik tahun 1973 (yang gak ada jok dan footstep buat pembonceng). Kenapa saya masih memilih pakai motor tua itu? Saya tidak punya uang untuk beli motor baru, ataupun untuk bayar kredit motor. Kenapa tidak naik angkutan umum? Karena jarak yang lumayan jauh maka saya musti ke Terminal Depok dulu biar dapet duduk, naik Bis Deborah, Depok – Meruya Ilir, yang cuma ada beberapa buah tiap hari, yang intinya ribet sekali, dan waktu saya tidak fleksibel jika naik kendaraan umum. Kenapa tidak naik mobil pribadi? Ndasmu!

Akhirnya saya pindah ke Kuching, singkat kata singkat cerita, gak ada angkutan umum di sini, semua orang naik mobil pribadi atau jalan kaki atau naik motor, atau numpang mobil tetangga, atau numpang mbonceng motor tetangga, atau nebeng orang dan sejenisnya.

Saya lalu kembali ke Jakarta, motor CB sudah cukup mengenaskan untuk dikendarai, akhirnya saya naik angkutan umum lagi. Kantor saya di Setiabudi, tapi waktu itu sesekali saya mampu bayar taksi (karena direimburse :P). Saya kembali naik Transjakarta, dengan antrian sepanjang mata memandang, antri berdesak-desakan, selama kurang lebih sejam … Kadang diteriakin sama petugas Transjakarta. Akhirnya kebiasaan ini membuat saya menjadi penjahat, kalau dapat duduk, saya akan pura-pura tidur, sebodo setan, saya sudah berdiri berjam-jam dan saya tidak mau durhaka kepada kaki saya sendiri. Gimana rasanya naik kendaraan umum? Setan! Saya tidak punya pilihan!

Akhirnya saya menikahi gadis impian saya, lalu kami membeli mobil pertama kami! (Nyicil tentunya, dengan DP seadanya), mobil bekas, Toyota New Corolla tahun 1998, 1800 cc, lumayan bisa buat kebut-kebutan. Tapi inti cerita kami membeli mobil bukan karena ingin kebut-kebutan, kami sudah cukup merasa kecapekan untuk naik angkutan umum, taksi, dan sejenisnya di Jakarta. Sebentar lagi kami juga akan punya momongan, rasanya tidak tega gendong bayi sambil ngantri Transjakarta di Dukuh Atas atau Harmoni atau Ragunan atau Stasiun Kota dengan kondisi semacam itu.

Tuntas sudah episode angkutan umum, sejak itu kami tidak pernah lagi naik Transjakarta, atau naik sepeda motor. Tapi tidak semudah itu hidup kami kawan, ternyata naik kendaraan pribadi juga bukan pilihan yang bagus, memang benar kami tidak perlu desak-desakan di kendaraan umum, tapi gantinya kami musti desak-desakan dengan sesama kendaraan pribadi. Setidaknya itu terasa lebih mendingan, kala itu.

Akhirnya tiba episode kami harus pindah ke suburban, ke Serpong Tangerang, suasana kehidupan terasa lebih nyaman, jauh dari bisingnya kota. Setiap hari kami mengendarai mobil pribadi lewat jalan tol Serpong – Jakarta, lalu keluar Pintu Tol Veteran, lewat Tanah Kusir, Kebayoran Lama, lalu sampai di Senayan. Saya melanjutkan perjalanan naik Transjakarta hingga Stasiun Kota, lalu naik ojek sampai Sunter. Banyak waktu luang ya? Iya, gimana lagi ga ada pilihan …

Kerja di Sunter dan tinggal di Serpong adalah ide yang cukup tragis, tidak ada direct flight dari Serpong atau sebaliknya. Pilihan saya ya cuma itu, kalau gak naik kereta lalu ngojek, naik mobil, lalu naik Transjakarta, lalu naik ojek. Gimana rasanya? Well, awalnya jalan Tol Serpong – Jakarta masih oke, tapi lama kelamaan jadi tambah macet, jalan Veteran macetnya semakin hari semakin gila, ditambah macet di Jalan Iskandar Muda (Depan Gandaria City), macet di Senayan, jalan Pattimura, dan semua jalan yang musti kami lewati adalah jalur macet.

Beberapa saat kemudian, rute perjalanan saya menjadi lebih pendek, tidak perlu lagi ke Sunter, cukup sampai Senayan. Tapi itu tidak membuat banyak perubahan dari sisi transportasi dan alokasi waktu sehari-hari …

Gimana rasanya? Saya benar-benar gak punya pilihan, di satu sisi saya ingin punya waktu lebih banyak dengan keluarga, tapi kalau saya berangkat siang, sampai kantor bisa-bisa sudah lepas makan siang, lalu berakibat pulang malam, sampai rumah anak sudah tidur, besoknya musti seperti itu lagi. Di situasi dan kondisi seperti ini masih aja ada yang ngatain ‘kelas menengah ngehe’. 

Bagaimana dengan performa kerja? Untungnya saya selalu bekerja dengan orang-orang exceptional dari sisi skill dan komitmen kerja, kalau tidak mungkin perjalanan karir saya isinya cuma kegagalan.

Pengennya kerja keras buat keluarga tapi konsekuensinya tidak punya waktu buat keluarga, kurang lebih itu gambaran saya tentang Jakarta.

Lalu apa kesimpulan dari tulisan ini? Orang-orang seperti saya di Jakarta pasti bukan cuma puluhan; saya orang dari kampung, orang Jawa, perantau, karena ga ada pilihan yang lebih baik untuk hidup di kampung halaman, makanya saya sekolah dan bekerja di ibukota. Orang seperti saya yang bertahan di Ibukota selama bertahun-tahun pasti akan terpikir untuk menyiasati segala tantangan dengan usaha sendiri (mau ngarepin pemerintah?), mikirin kenyamanan sendiri dulu, mikirin kebutuhan sendiri dulu. Beberapa tahun sesudah mulai bekerja, orang-orang seperti saya ini akan mampu menikah, menyicil mobil, menyicil rumah, membeli gadget baru, karena alasan sederhana: ingin punya kehidupan yang lebih baik. Ingin memberikan yang terbaik buat keluarga, gak pengen anak istrinya ngerasain antri berjam-jam di halte Transjakarta, gak pengen ngeboncengin anak istrinya naik motor lewat Pasar Minggu atau Pancoran di waktu panas mencereng dan hujan deras yang airnya terasa asam dan bikin tangki bensin motor berkarat.

Bisakah kita berharap kepada pemerintah? Sudahlah, yang jalanin pemerintahan juga bukan dewa, mereka juga orang-orang biasa seperti kita, kadang kondisinya lebih sulit, gak bisa diprotes juga. Tapi orang-orang yang bisa membuat keputusan yang mungkin tidak pernah merasakan kehidupan penduduk kelas bawah dan kelas menengah ngehe, yang mustinya bisa bikin sesuatu yang lebih baik. 

Sementara itu? Bekerjalah dengan giat, buat diri sendiri dan keluarga bahagia.

 

 

Advertisements