Tiga tahun Lemon dan beberapa bait menjadi orang tua

Lemon berumur tiga tahun akhir tahun lalu, 29 Desember 2013. Lalu mengapa baru menulis blog ini sekarang? Jawabnya panjang sekali, saking panjangnya, saya perlu beberapa minggu untuk menyadari, saya tidak menulis sesuatu untuk memeringati hari lahir putri kami satu-satunya (sampai saat ini :D), Maika Lemoni Amanda.

Sebenernya pengen nulis ini dari sejak lama, tapi kadang saya pikir tidak begitu penting untuk menuangkannya ke dalam tulisan lalu membiarkan publik membaca kemudian mengadili setiap kata yang saya pilih dan memerkosa setiap alur pikir yang saya tempuh. Tapi, whatever, saya juga punya pandangan sendiri. Intinya, saya tidak suka dengan diri saya yang ‘dulu’, pemikiran, pola pikir, kepribadian, kesimpulan-kesimpulan, dan segala sesuatu yang saya sukai di masa lampau, saya ingin meletakkannya di bagian lampau, sejauh-jauhnya.

Saya dibesarkan dalam tatanan sosial `lelaki adalah raja, lelaki yang benar, bahkan tuhan pun adalah lelaki`. Perempuan harus diam, tinggal menurut, tidak usah ikut-ikutan, harus nrimo ing pandum, ngurusin rumah, sekolah boleh tapi musti nurut apa kata suami. Segala doktrin, madzhab dan manhaj kehidupan sosial a la lelaki. Saya juga tumbuh dengan doktrin hitam putih, kalau tidak benar ya pasti salah dan masuk neraka, tetapi juga mengamati kemerdekaan yang melampaui batas. Hal-hal terkait tatanan sosial dari satu titik ekstrim hingga titik ekstrim di ujung sisi lain sudah pernah saya lihat, setiap kali mengingatnya, menimbulkan perasaan ngilu …

Matrimony

Tatanan sosial macam ini mengizinkan terjadinya fenomena-fenomena radikal yang akhir-akhir ini terjadi, saking mirisnya saya malu menyebutkannya di sini. Setiap kali saya dan istri baca berita menyangkut remaja, anak muda, orang-orang dewasa yang berperilaku tidak wajar, kami selalu berpandangan khawatir, dan saling bertanya “Bagaimana kita bisa mendidik Lemon agar tidak berperilaku seperti orang-orang itu?”

Pertanyaan yang wajar dan lumrah buat orang tua seperti kami, tapi ini tidak pernah sama sekali terpikirkan ketika kami masih lajang. Dari pemikiran semacam itu jadilah kami orang tua yang super protektif, tetapi kami juga tidak ingin anak ini tumbuh dengan doktrin. Kesadaran atas kondisi semacam ini kadang membuat kami berpikir “apakah ini blessing in disguise?”.

Konon ada yang bilang bahwa buah yang baik tumbuh dari bibit yang baik, sebagai orang tua hendaknya selalu memberi contoh yang baik, dan tentunya dari hati yang baik itu akan berbuah dengan tindakan-tindakan yang baik yang menjadi tauladan untuk anak turunan kita. Saya yakin banyak sekali orang tua yang berprinsip demikian, “Kami sudah memberikan contoh yang baik”, “Jadi, tenang, anak-anak kami juga akan jadi orang baik-baik nantinya”

Bukannya kami ragu apakah kami ini orang berperilaku baik atau tidak, tetapi kami sudah cukup melihat perilaku-perilaku buruk dilakukan oleh orang-orang yang merasa diri mereka baik.

Untuk Lemon anak perempuanku, sehat selalu ya Nak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s