Selamat Hari Jadi Perkawinan Pak Kumis dan Bu Kepik

Apa yang istimewa dari tahun ketiga perkawinan kami? Waktu.

Tahun lalu sekitar minggu-minggu ini kami sedang sibuk merencanakan kehidupan selanjutnya setelah saya mendapat berita pemutusan hubungan kerja. Beberapa bulan kemudian kami putuskan pindah dari Jakarta. Kepindahan kami ke Singapura adalah sebuah pilihan yang besar untuk kami, baik dari sisi materi maupun nonmateri; Bapak-bapak dan ibu-ibu tidak serta merta bisa nengokin cucu ketika mereka kangen, Pepi yang tiap weekend pulang ke rumah kami, sekarang sudah tidak bisa lagi, niatan mau ngajarin Dedek biar kerja di Jakarta pun pupus sudah (Maaf ya Dek, janjiku belum bisa kutepati), perasaan bersalah karena Mbak Lilik dan Mbak Dati harus pulang kampung dan bekerja buat sesuatu yang mereka gak gitu suka, perasaan ngerepotin orang-orang karena harus ngurusin urusan kami yang masih tertunda di Jakarta, dll.

Waktu itu pilihan saya cukup sulit: bertahan di Jakarta, tanpa kelihatan hasilnya akan ke mana dalam beberapa tahun ke depan, atau nekat pindah ke Singapura dengan bekal pengetahuan seadanya, harus menurunkan *gaya* hidup, hidup *pas-pas-an*, tapi ada pengalaman baru yang gak cukup diukur dengan uang. Terima kasih ya Jeng, tanpa dukunganmu semua kenekatan ini gak bisa kita jalani seperti sekarang ini.

Oiya, tahun ini kami mulai banyak jalan kaki dan berolah-raga, tinggal di rumah susun yang seharusnya buat orang Singapura, bukan private apartment atau condominium, tanpa kendaraan pribadi, kemana-mana jalan kaki, naik bis, naik kereta, yang belum pernah naik perahu doang. Jauh beda sama sewaktu di Jakarta; mau beli bakso ke depan saja musti naik sepeda motor. Semacam gaya hidup yang bikin kami melihat dan memperhatikan banyak hal; Mungkin lain waktu saya akan berbagi tentang hal-hal di Singapura yang tidak pernah kelihatan di mata para turis.

Tahun ini kami memiliki waktu bersama-sama lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya, saya sampai rumah setiap hari jam 7:30 – 08:00 malam, masih punya banyak waktu untuk main dengan Lemon, bercengkerama dengan Ajeng dan Lemon sambil kruntelan di atas kasur. Semua itu bikin tingkat emosi cukup stabil dan kami merasa lebih sehat, walaupun kerinduan terhadap Bersih Sehat tidak mungkin dipungkiri.

Beberapa bulan pertama sungguh berat untuk menjalani perubahan ini; Buat saya tidak begitu berarti karena tiap hari masih sama saja bekerja, malah lebih nyaman karena perjalanan sekarang tanpa macet, Si Ajeng yang sedikit stress pada awalnya; dari yang biasanya kerja, tiap hari nyetir mobil BSD – Bogor, sampai rumah mendapati anak sudah rapi dan tidur nyenyak, hari-harinya biasanya diisi sama meeting dan mengurusi orangutan dan keribetan birokrasi kementrian atau kebuntuannya menulis laporan, dll, sekarang harus menghadapi anak yang sedang lucu-lucunya, dan bandel-bandelnya, dan sedang di masa yang sangat-sangat mudah meniru sesuatu yang baru, dan … harus mengajari sekaligus menahan emosi itu tidak mudah lho. Sampai suatu ketika kami ngobrol; sepertinya tidak rela membiarkan anak kami diajari orang lain yang kami tidak tahu latar belakangnya seperti apa.

Tapi itu semua berjalan secara alami; Mother-children bonding itu mulai tampak hasilnya, keduanya tampak sehat dan bahagia. Si Ajeng juga semakin jago memasak, padahal masakannya sederhana saja seperti steam ayam, semur ayam, ayam bakar, ikan bakar, sayur bayem, sayur sop, steam tahu, tumis kaylan, tumis kangkung … Tapi semakin ke sini rasanya semakin mantep, sudah seperti rasa masakan ibu. Dia juga semakin jago dandan, tiap kali ada saja metode baru dalam bedakan atau memerahkan pipi dan bibir. Yang terakhir kemarin, bedakan dengan kuas, yang biasanya dia lakukan itu dengan jari. Pengetahuannya soal dandan dan materialnya sudah setingkat tukang elektronik yang paham bikin monostable multivibrator pakai IC 555 di luar kepala, mungkin lebih.

Si Lemon … Pertumbuhan anak ini cepat betul, tidak akan cukup menceritakannya sekarang, kami selalu membagi video atau photo tentang tingkahnya yang selalu ada saja setiap saat, tiap hari pasti ada kata-kata baru, sudah mulai bisa menyusun kalimat dengan benar, sudah bisa bercerita dan berpura-pura, sudah bisa marah dan ngambek (dan keras kepala seperti bapaknya tentunya). Kadang itu semua muncul begitu saja, tanpa diajari oleh ibu atau bapaknya. Ini yang orang-orang bilang masa kritis di mana kepribadian anak terbentuk, tapi kami gak berniat membentuknya, biarin semua alami saja, kecuali dia melakukan hal yang sangat menyimpang barulah kami akan tegur, lain itu biar jadi dirinya sendiri.

Semoga tahun ini berjalan dengan lancar dan kami diberi cukup kesabaran untuk mengelola perasaan dan segala persoalan kami dan keluarga kami. Mau apa habis ini? Saya juga belum tahu, masih pengen nyobain hidup di tempat lain, tapi belum ada rencana pasti, sampai sekarang kami masih dalam tahap adaptasi, masih sering salah sangka, masih kurang tepat mengira-kira, dan masih mencoba melupakan keberadaan Bersih Sehat di dunia ini 😀

Advertisements

One thought on “Selamat Hari Jadi Perkawinan Pak Kumis dan Bu Kepik

  1. Misskepik » Anniversary Date: Riders Cafe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s