Soal Idealisme

Masih teringat potongan film Social Network, tentang ide yang tidak berharga tanpa diikuti eksekusi. Jadi bukan ide yang berharga mahal, akan tetapi eksekusi. Melihat beberapa hal belakangan, banyak sekali perusahaan baru di dalam negeri yang meniru atau minimal mirip dengan model bisnis yang sudah berjalan duluan di luar negeri. Sah-sah saja, yang penting eksekusinya.

Berangkat dari beberapa kalimat di atas, tentu kita paham betul bahwa memang benar eksekusi itu bernilai penuh, sementara ide bernilai nol. Bahwa ide brilian tidak lagi menjadi brilian ketika tidak diikuti oleh tindakan yang menjadikan ide atau turunan ide tersebut nyata dan berwujud, dapat dirasa dan memberikan efek di lingkungan sekitarnya. Bukankah memang begitu?

Sering saya lihat di Twitter, beberapa orang tampak benar-benar aktif dan tampak turut serta dan terlibat dalam berbagai isu yang sedang panas dan menjadi trend, hingga saya sedikit paham, mungkin orang-orang inilah calon pemangku kekuasaan kelak, di tangan merekalah negeri ini bisa menjadi lebih baik. Bagaimana tidak, mereka hampir selalu mengikuti perkembangan setiap hal; mulai dari masalah ekonomi seperti bailout bank, skandal politik tingkat tinggi,buronan interpol, musik dan harmonisasi (ketika mengomentari album Bapak Presiden), seni visual (ketika mengomentari iklan dan desain), otomotif dan beberapa disiplin ilmu terkait, ilmu sipil dan pembangunan dan perancangan konstruksi, komputer dan pemrograman, isu nasional seperti lumpur lapindo, pemilihan putri Indonesia, pemilihan Komodo sebagai New 7 Wonders, Susu Formula hingga hubungan asmara, … saya bisa bilang, jika anda mencari pemikir paling jempolan, silahkan cari di Twitter. Dari mulai saran, anjuran, hingga kritik pedas, pemikiran visioner, radikal, semua ada di Twitter.

Semoga saja, para pemuda (termasuk saya) ini dapat mengikuti ide dan pemikiran mereka dengan eksekusi yang menjadikan pemikiran mereka nyata. Jalan menuju realisasi sebuah pemikiran tentunya panjang: saya ambil contoh, ketika kita mengritik ketua DPR yang berkomentar kurang pantas, jika dan hanya jika idealisme kita cukup kuat, tentu satu-satunya solusi adalah saya akan menggantikan ketua DPR, karena pemikiran saya jauh lebih cerdas dan baik.

Artinya, saya minimal harus memiliki gelar akademis dan nilai akademis yang sama dengan beliau, saya harus memiliki relasi yang minimal sama dengan beliau, saya juga harus memiliki kemampuan finansial yang sama dengan beliau. Kelebihan saya adalah, pemikiran saya lebih visioner daripada beliau. Di sini, saya tentu menang.

Semoga saja, saya mampu mengeksekusi idealisme ini menjadi nyata. Bukan hilang ditelan timeline, lalu berganti lagi ketika isu yang seru juga berganti. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s