Macet dan Perut

Sering sekali saya dengar dan baca komentar tentang kemacetan di Jakarta. Sering saya ikut berkomentar karena selain macet adalah teman dan sahabat yang selalu ada di sisi saya tiap hari, sekarang macet lebih mirip seperti musuh yang menghambat hampir segala sesuatu.

Yes, saya adalah pekerja migran korban urbanisasi. Saya berasal dari pelosok Magelang, Jawa Tengah. Sudah hidup di Jakarta sejak tahun 2003 selepas lulus SMA. Sejak itu saya turut mengamati dan menikmati pertumbuhan kemacetan Jakarta bagian selatan hingga Depok. Sesekali saya pergi ke Jakarta Pusat, Timur, Utara dan Barat menggunakan angkutan umum yaitu bis kota atau angkot dengan lauk macet, panas, dan asap kendaraan. Tahun 2008 saya berkantor di Sudirman, naik sepeda motor dari Depok dengan waktu tempuh sekitar satu jam. Masih dengan masalah yang sama; macet dan polusi.

But, what can I do?

Enjoy aja kata orang bijak. Yes, enjoy karena saya butuh duitnya, dan kemacetan atau polusi adalah bumbu yang membuat perjalanan lebih lezat. Ada yang bilang, ketika saya mengeluhkan kemacetan itu adalah konsekuensi dari pilihan saya sendiri, kalau mau enak ya pulang kampung saja. Begitu kata mereka. Benar sekali, walaupun menurut saya kurang bijak.

Menjadi buruh migran itu sarat dengan risiko migrain. Setiap hari dihadapkan dengan kemacetan, polusi, persaingan kerja, yang berakhir pada masalah kesehatan. Ditambah komentar-komentar yang sungguh benar secara logis namun kurang sedap, lengkap sudah derita si buruh migran. Kemudian saya berpikir kembali pada asal muasal semua ini, yaitu alasan mengapa saya memilih pindah ke ibu kota daripada tetap tinggal di desa.

Pertama, tidak ada sekolah lanjutan/universitas yang saya minati di kota kelahiran saya. Dari situ saya memutuskan untuk pindah dibantu oleh saudara yang sudah lebih dahulu tinggal di ibu kota. Kedua, tidak ada lapangan pekerjaan yang sesuai di kota kelahiran saya. Ilmu yang saya pelajari selama kuliah hanya “laku” di kota ini, di sini pula saya peroleh pekerjaan. Sepertinya memang awalnya kedua alasan tersebut, tapi tentu pada akhirnya banyak alasan lain yang muncul sesudahnya.

Tinggal di tengah ibu kota berarti menambah kesengsaraan, polusi udara dan suara, dan harga sewa properti yang lebih dari separuh gaji bulanan saya cukup menjadi alasan untuk tinggal di daerah suburban. Alasan kuat lain untuk tinggal di suburban adalah tingginya biaya hidup (makan, minum, sandang, hiburan) di tengah kota. Konsekuensi dari pilihan untuk tinggal di suburban adalah masalah transportasi, meskipun tersedia beberapa pilihan moda transportasi, tetapi masih jauh dari rasa nyaman; antrian lama, berdesakan, perjalanan lama, risiko dicopet, dan lain lain.

Akhirnya, bagi yang cukup beruntung dapat menggunakan kendaraan pribadi; sepeda motor atau mobil masih dengan konsekuensi tingkat kemacetan meningkat. Semakin lama semakin banyak yang mampu membeli mobil karena uang muka yang rendah, demi satu hal: kenyamanan. Agar tidak berdesakan di kereta atau angkutan umum, tetapi berdesakan di jalan tol. Setahu saya, tidak ada solusi dari pemerintah yang konkrit untuk persoalan ini.

Lalu kalau tidak ada solusi pemerintah, solusi saya sendiri apa? Untuk saat ini tidak ada, selain enjoy aja dengan kota ini dan segala permasalahannya. Enjoy di sini hampir terasa seperti makanan basi yang terasa asam dan mengacaukan perut. Hey, saya pembayar pajak yang taat, saya tidak melakukan tindakan kriminal, saya warga negara baik, lalu mengapa ini yang saya terima? Mulih kampung wae, sob!

Lalu siapa yang salah? Entah, tidak ada lapangan kerja di kampung, pemuda pindah ke kota, semua orang berpikir hal yang sama maka kota kelebihan penduduk, transportasi umum bejubel, orang memilih menggunakan kendaraan pribadi, yang akhirnya menambah kemacetan. Apa lalu musti dipaksa untuk menggunakan sepeda? Atau harus menggunakan bus/angkot? Dengan berbagai risiko yang mungkin terjadi (saya pernah kecopetan beberapa kali, pernah telat sampai kantor berkali-kali) rasanya jika ada pilihan lain, meskipun berisiko menambah kemacetan, sedikit kelebihan rasa nyaman itu yang akan saya pilih.

Yasudah jangan protes kalau kena macet! Hey, saya tinggal di kota ini mengikuti peraturan, saya melaksanakan kewajiban saya, saya membayar pajak, tetapi saya tidak boleh protes? Bagaimana jika dibalik? Semua pendatang tidak boleh membayar pajak, tidak boleh protes, … tentunya tidak boleh menambah kemacetan juga? Alias pulang kampung saja sob! Ini juga bukan pernyataan yang bijak sana sini. Sebagai manusia, wajar saja protes ketika hak tidak dipenuhi sementara kewajiban sudah ditunaikan. Yang tidak wajar itu para penghutang kewajiban, tidak memiliki hak, tetapi komentar melulu. Freedom of speech? Talk to Stallman!

Saya juga membaca/mendengar komentar dari beberapa orang yang memilih tinggal di desa, membuka lapangan kerja baru, memulai usaha, dan lain sebagainya. Saya juga ingin sekali mengikutinya, tetapi saya sadar (setelah beberapa kali mencoba) bahwa saya bukan orang yang pintar berbisnis. Saya hanya punya sedikit kemampuan membual dan tidak cukup berani mengambil risiko dan membaginya dengan orang lain.

Hey, bukankah berbisnis itu mudah; anda beli barang lalu jual lagi dengan harga lebih tinggi, anda dapat untung, teruslah seperti itu. Iya mudah sekali, tetapi saya belajar bukan untuk menjadi penjual, saya tidak sekolah penjualan, bukan bisnis. Lalu apa jadinya jika semua orang memilih menjadi pedagang? Siapa yang membuat barang dagangan? Akhirnya saya mundur dari ide “memulai usaha baru” karena kerumitannya, risikonya, modalnya…wah ternyata saya ini orang cari aman ya? Tentu saja, karena tidak ada yang bisa saya andalkan untuk menjamin keamanan saya selain saya sendiri (tentu teman dan relasi sangat penting), di posisi ini saya ingin memperkecil segala risiko.

Lain lagi komentar penduduk “asli” Jakarta, mereka yang pendahulunya lebih dulu tinggal di Jakarta. Terutama komentar ketika lebaran datang, berbondong-bodong buruh migran pulang kampung, dan penduduk Jakarta berharap mereka tidak kembali lagi. Jangan kembali, biang kemacetan, bekerjalah di kampung halamanmu, dan kalimat semacamnya. Coba tengok orang-orang di sekitar anda, saya yakin pasti sebagian besar bukan orang asli (atau minimal kelahiran) ibu kota, penggerak perekonomian semacam pedagang nasi, supir angkutan umum, pegawai pemerintah, asisten rumah tangga, biasanya dikerjakan oleh para pendatang. Bayangkan jika mereka semua pulang kampung, apakah perekonomian ibu kota akan sama baiknya?

Di sini, saya tidak mau mengritik pemerintah, lha wong ndak akan ada bedanya. Cuma mungkin buat orang yang sering berkomentar nyinyir tentang kami para buruh migran, para chauvinist extremist, sampeyan semua masih pada miskin satu hal bernama: Global Awareness. Memikirkan solusi yang *mungkin* bekerja untuk diri anda sendiri, tetapi tidak akan bekerja bagi kebanyakan orang, daripada menawarkan solusi seperti itu, mendingan belajar lagi deh, atau diam.

Saya sering berpikir, konon kita sudah memasuki era globalisasi hingga tidak ada batas teritori beberapa negara dalam hal bisnis, lha ini cuma beda tempat kelahiran saja jadi masalah kronis. Bibit-bibit perpecahan?

Saya (dan *mungkin* kawan-kawan orang kampung yang) memilih pindah ke ibu kota sebenarnya memiliki satu alasan sederhana, ingin merasakan hidup lebih baik, bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk anak cucu dan keturunan, agar mereka tidak merasakan kesusahan seperti yang saya rasakan. Kadang pengen mendapat kalimat-kalimat penyemangat, tapi apa boleh buat kalau yang didapat adalah caci maki dan umpat?

Tidak ngaruh juga sih komentar itu, cuma kadang-kadang saya pikir kita sudah berada di abad kedewasaan, mulut berkata setelah dididik selama puluhan tahun, ternyata tidak. Lalu apa boleh buat?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s