Sekali Merdeka Tetap Merdeka

Saya hampir lupa dengan potongan lirik di atas, lupa itu dari lagu apa, lupa kapan terakhir menyanyikannya.

Hari ini, 17 Agustus 2011. Konon, menurut sejarah, 66 tahun lalu negeri ini memproklamasikan diri menjadi sebuah negara berdaulat. Hari ini, saya juga melihat beberapa tipe sampah timeline, tipe pertama yaitu kalimat penuh dengan optimisme disertai dengan tagar #17an, tipe kedua dengan kalimat apatis, bernada protes, dan seolah-olah kritis. Saya selalu ingat nasihat dari orang-orang yang saya anggap senior dan lebih banyak memakan garam kehidupan, salah satunya: Optimis adalah pesimis yang kurang informasi.

Ada juga yang sampai bikin website, upacara digital, pengibaran bendera digital, dan layanan sejenis. Entah, alasan apa yang mendasari dibuatnya layanan semacam itu. Apakah itu sebagai salah satu portfolio programmer bersangkutan, ataukah itu sebagai ajang pemasaran berkedok nasionalisme dan memanfaatkan euforia sesaat (ingat kasus bom di Jakarta yang melahirkan tagar #indonesiaunite, dan melahirkan jutawan baru yang berhasil memanipulasi keadaan dengan menjual kaos tanpa krah, menjual CD, dan menjual buku?), ataukah itu sekedar manifestasi semangat nasionalisme yang sedemikian membara? Entah, saya tidak tahu.

Di negeri ini, saya memiliki dendam kesumat yang tiada habis, meski alam bawah sadar saya sesekali mengingatkan untuk memberi maaf, tetapi alam sadar saya terus menerus memberontak. Ada sebuah peristiwa besar yang melatarbelakangi kehidupan keluarga saya sedemikian rumit di masa kanak-kanak saya, peristiwa tersebut disebabkan oleh ketidakadilan dan arogansi sebuah lembaga bernama negara. Bagaimana lembaga tersebut merampas hasil perjuangan dari kakek buyut hingga ayah saya, kemudian membuang ayah saya, memisahkannya dari keluarganya, masa depan dan semangatnya dirampas. Ya, ayah saya adalah salah satu korban tunjuk hidung.

Setelah sekian tahun mencari ‘keadilan’, mengirimkan surat kepada Presiden, menulis surat ke surat kabar, mengirim surat ke Mahkamah Konstitusi, Komnas HAM, dan lembaga sejenis, saya akhirnya bicara kepada beliau; penderitaan yang sudah beliau jalani, akan tergantikan dengan kebahagiaan dan kemudahan yang diperoleh anak cucunya. Sejak saat itu, beliau berhenti melakukan protes, tidak ada lagi kertas folio, amplop coklat dan tinta bak di meja. Sekarang beliau lebih legawa, melihat cucu, satu-satunya cucu yang beliau tunggui dari mulai dari dalam kandungan hingga kelahiran dan pertumbuhan gigi pertamanya. Legawa dengan kegiatan mencangkul pekarangan masjid di belakang rumah kontrakannya setiap pagi hingga sebelum dhuhur.

Di dalam hati kecil saya, sudah tidak ada harapan lagi yang dapat digantungkan oleh the-so-called pembela kebenaran (Mahkamah Konstitusi, Komnas HAM, Partai Politik (?), …). Saya sangat miris dan prihatin dengan kondisi perasaan ayah saya yang setiap saat seperti mengejar harapan agar minimal namanya dikembalikan seperti semula, sebuah penyakit menahun, yang tidak dapat dengan mudah disembuhkan.

Siapa sih rakyat kecil ini di mata penguasa? Apakah surat-surat ayah saya yang ditujukan kepada presiden itu benar-benar sampai kepadanya? Apakah yang mulia presiden benar-benar membacanya? Jiwa rakyat kecil ini tidak cukup penting untuk dipertaruhkan. Apakah dengan adanya Mahkamah Konstitusi yang konon memfasilitasi pencarian keadilan dapat menyembuhkan luka yang menahun lagi busuk?

Sementara, hampir setiap hari saya melihat para demonstran bayaran di seputaran Bundaran HI, depan Mahkamah Konstitusi, depan KPK, di sekitar gedung DPR/MPR. Semua permainan! Siapa punya duit, dia bisa beli segerombol pengangguran untuk meramaikan alam demokrasi. Demokrasi Non-Sense! Keadilan hanya milik sekelompok orang yang memiliki uang yang tak lagi bernomor seri. Negeri ini hasil karya para kapitalis!

Akan tetapi, saya cukup senang melihat antusiasme anak muda yang masih demikian tinggi harapan hidupnya di negeri ini. Semoga hal itu tidak berhenti sampai senja nanti. Akhirnya, selamat ulang tahun, Dirgahayu Republik Indonesia. Semoga semangkin yahud!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s