Memoar Perjalanan Ketemu Lemon

Saya harus menahan air mata menuliskan memoar kecil ini.

Betapa Tuhan telah banyak menolong saya dan keluarga kecil kami. Pertemuan pertama dengannya adalah dua belas tahun lalu, ketika itu kami masih sama-sama mengenakan seragam biru putih di sebuah sekolah negeri di kota kecil kelahiran kami, kota sejuk yang dikelilingi lima gunung besar yang di tengahnya terdapat bukit kecil bernama Tidar. Kota yang sama-sama kami ingin tinggali suatu saat kelak, mendidik anak kami yang baru lahir menjadi orang arif seperti para pendahulu kami.

Waktu itu, dua belas tahun yang lalu, saya mengalami sebuah momen jatuh cinta kepada seorang anak perempuan berambut panjang, kadang dikucir, berkaca-mata, paling charming di antara kami, yang berakhir pada ambisi saya untuk selalu menggodanya, membuatnya lari ketakutan, yang padahal niat saya adalah untuk membuatnya tersenyum. Mungkin kelakar saya, dan tingkah laku saya saat itu cukup membuatnya risih. Akan tetapi sekarang saya membuatnya lebih risih karena setiap hari saya selalu menggodanya, masih dengan tujuan sama, membuatnya tertawa.

Lalu beberapa tahun berselang saya kembali bertemu dengannya, di sebuah jejaring sosial (friendster, FTW!), lalu memulai berbincang, dan akhirnya saya ungkapkan rasa yang selama ini saya pendam. Saat itu, dia sudah berpacaran (6 tahun), dan mungkin sebentar lagi akan menikah. Lalu saya kembali menggodanya, kami bertemu setiap pulang kerja (ketika itu dia bekerja di Jakarta, kota rantau saya sejak 2003, sesudah lulus SMA) di halte bus Dukuh Atas. Duduk saja sudah cukup, sembari menahan rasa yang berbuncah, yang sering menyisakan perih sehabis kami pulang ke rumah masing-masing.

Kami ‘jadian’ (kadang istilah ini membingungkan :-\), kami berpacaran. Dia di Yogyakarta, saya di Jakarta. Tak lama kemudian saya pindah kerja di Kuching, sebuah hubungan yang memakan biaya, membuat kami yang miskin itu sangat menderita. Hanya untuk sekedar bertukar suara, kami butuh 150 ribu untuk 30 menit, yang mana sangat mahal bagi kami. Beberapa bulan kemudian saya kembali ke Jakarta, kami pun sangat bergembira, minimal setiap minggu dapat berjumpa. Dia yang mengorbankan segalanya bagi hubungan kami.

Pertemuan yang sangat kami inginkan dan sangat berat bagi kami jika terpisah, bertemu setiap minggu dengan segala kesederhanaan kami, namun begitu indah. Lagi-lagi pengorbanannya sangat besar bagi hubungan kami. Bulan-bulan yang indah, penuh peluh, menyedihkan, mengkhawatirkan, dan tentunya membahagiakan. Kami sering merangkum pertemuan kami di menit-menit terakhir sebelum kereta ke Yogyakarta tiba di Stasiun Jatinegara, lalu tak henti-hentinya saling bercerita setiap kali kami berbincang lewat IM, telepon, pesan singkat, email-email, tentang apa saja. Semua yang kami lewati begitu penuh, begitu indah.

Tak lama kemudian, Dia pindah kerja ke Aceh. Pekerjaan yang diidam-idamkannya selama ini, saya sangat mendukungnya. Saya belajar dari seorang sahabat yang bilang (dengan bermaksud gombal) “Saya akan selalu mendukungmu, kejarlah mimpimu, jangan khawatir saya akan selalu ada di sampingmu” – Indra Michael. Gombalan tersebut jika dicerna lebih mendalam berarti apa pun yang kamu inginkan untuk kebaikan pasti akan selalu saya dukung, jika kamu melakukan kesalahan itu adalah hal yang wajar, berjuta orang melakukan kesalahan yang sama bahkan lebih buruk, jadi tidak usah khawatir karena saya mengerti hal itu.

Dia pergi ke Aceh, ketika itu kami sama-sama kecewa karena lagi-lagi berjauhan. Tetapi kami sadar, ada mimpi yang harus dikejar, untuk beberapa orang kelak. Jadi kami pun menjalaninya, dan sungguh dari ucapannya “Udah diikhlasin aja, nanti juga ada jalannya” saya belajar untuk menerima. Ajaib sekali, justru ketika kami berjauhan, Dia lebih sering datang ke Jakarta, dan kami pun sering bertemu. Tepat ketika kami menyerah karena lelah, sebuah jalan terbuka untuk dilewati, perjalanan kami pun dimudahkan. Hingga suatu hari keluarga saya datang untuk melamarnya, beberapa hari sesudahnya, Dia dipindahkan ke Jakarta.

Perjalanan kami untuk menikah pun begitu berat, lagi-lagi pengorbanannya begitu besar bagi hubungan kami. Tangisan tiap malam, kekecewaan, harapan yang pupus, usaha yang gagal, hingga datang pertolongan dari langit bagi kami yang sudah benar-benar lelah dan hampir menyerah. Semuanya datang begitu kami sampai di satu titik di mana segalanya telah kami korbankan dan gagal, tinggal rasa lelah dan harapan agar semua segera selesai atau tidak terjadi sama sekali. Kami bahkan hampir lupa seperti apa rasa cinta karena begitu berat perjalanan kami.

Hingga hari pernikahan tiba, dan kami disaksikan kerabat menjadi pasangan suami istri. Kami pun bergembira, seperti segelas air sejuk di suatu hari yang kering dan melelahkan. Tetapi perjalanan belum usai. Beberapa hari sesudah menikah, kesehatan istri saya turun hingga tidak dapat bekerja. Lalu kami dapati bahwa dia hamil, seperti yang kami inginkan sejak dulu. Tetapi perjalanan selanjutnya tak seindah bayangan kami.

Awal kehamilan bagi istri saya adalah sebuah mimpi buruk. Kelelahan sepanjang hari, muntah lebih dari dua puluh kali sehari, perasaan tidak berdaya, berat badannya turun drastis, hingga masuk rumah sakit, opname beberapa hari. Itu pun masih dilengkapi dengan kenyinyiran beberapa orang yang bahkan menanyakan kondisinya pun tidak. Perasaan yang sangat menyakitkan dan memperburuk keadaan. Lima bulan istri saya hanya mengonsumsi Coca Cola, selain itu: muntah!

Bayangkan pagi hari sarapan bubur ayam paling enak se-Setiabudi, dengan kerupuk, sate ati-ampela, sambal, lalu pada suapan ke 8 semua yang baru saja masuk ke perut itu keluar dari mulut dan hidung. Hal itu berlangsung terus-terusan setiap hari selama lima bulan. Apa pun yang dia baui membuatnya muntah, sedangkan dia kelaparan. Sangat besar pengorbanannya. Saya hanya bisa bilang “Jika perjuangan sangat berat, biasanya akan ditemui sesuatu yang besar, mulia”.

Sesudah Hari Raya, semua mulai membaik, istri saya mulai makan cukup banyak, berat badannya naik, dan syukurlah kondisi bayi kami sehat. Hingga kami kembali ke Jakarta, istri saya mulai mencoba kembali bekerja. Tetapi itu pun tidak mudah, setiap hari minimal lima kali dia muntah. Saat itu kami sangat mengkhawatirkan kondisi bayi kami, apakah cukup nutrisi untuk pertumbuhannya? apakah aman kandungan istri saya sementara dia muntah berkali-kali tiap hari?

Tibalah hari di mana istri saya akan melahirkan putri kami yang pertama, 29 Desember 2010. Hari itu terjawab sudah kekhawatiran kami selama ini, seorang bayi perempuan sehat, dengan tangisan yang sangat kuat ketika saya menyentuhnya pertama kali. Dia yang selama ini tumbuh di dalam perut istri saya, yang tiap pagi bergerak-gerak sangat aktif, dan sering membuat kami khawatir ketika dia diam saja. Serasa terbayar sudah perjalanan kami selama ini, terlebih rasa sakit yang dirasakan oleh istri saya (Ga sepenuhnya sih, Dia masih nyeri2 bekas operasi kelahiran Lemon :|)

Begitu cerita kami sampai saat ini, sebuah perjalanan yang sepertinya agak mustahil dapat kami lewati. Entah dengan kekuatan apa, kami mampu melewatinya hingga saat ini. Yang jelas banyak sekali pertolongan yang kami peroleh, dari kawan-kawan yang sebelumnya tidak kami kenal, yang sebelumnya hanya teman virtual kemudian menjadi sahabat, insipirasi bagi kami.

Kami adalah manusia biasa, hubungan kami pun sederhana, ketidak-cocokan adalah hal biasa. Beberapa kali sewaktu pacaran, saya tertidur pulas ketika kami bertelepon, dia begitu marah, meskipun saya berkilah dengan alasan tubuh saya lelah. Dia pun demikian, bukan hanya saya yang lelah. Tetapi dia masih memberikan waktu bagi hubungan kami, berbincang hingga subuh, membicarakan apa saja, dan kadang tak membicarakan apa pun ;-). Saya belajar banyak darinya, memberikan saya ruang untuk memahami kehidupan orang lain, bukan hanya saya tokoh di kehidupan ini. Dia dapat menerima saya, saya pun belajar banyak untuk menerimanya.

Saya benar-benar mengerti konsep “tidak ada yang instant” selama berhubungan dengannya. Anda ingin hidup bersama seseorang yang benar-benar cocok dengan diri anda? Tidak akan anda temui kecuali anda turut serta mencocokkan diri dengan partner anda. Itulah harga dari sebuah hubungan. Pengorbanannya menghabiskan segalanya bagi hubungan kami, membuat saya semakin mengerti arti sebuah hubungan. Harus diperjuangkan. Sebuah hubungan terdiri dari dua manusia dengan segala kekurangannya, tidak dapat saling memaksa. Jika anda paksa partner anda, berarti dia berubah menjadi budak anda, begitu pula sebaliknya.

Tidak ada yang instant, proses saling mengerti itu pun memakan waktu, tidak cukup hanya sebulan, tidak cukup dengan pelukan dan ciuman, tidak cukup dengan kebendaan, tidak cukup dengan memasak bersama, tidak cukup dengan tidur bersama. Perlu waktu dan penderitaan yang harus dilewati bersama, karena waktu mendidik kami untuk lebih bersabar, untuk lebih memahami diri masing-masing. Perlu perkelahian, perlu perdebatan, perlu perpisahan, agar lebih memahami keberadaan pasangan.

Sad but true, ga bisa bikin rendang enak dalam waktu 15 menit. Alam pun mengajari kita, tetesan air perlu bertahun-tahun untuk melubangi batu. Kita tidak perlu melubangi batu atau memasak rendang, tetapi memahami seseorang. Dia sudah hidup sekian tahun dengan nilai-nilai yang mungkin berbeda dengan yang kita pahami, rangkuman 20 tahun lebih perjalanan hidup tersebut yang harus dipahami.

Hubungan kami sangat sangat sederhana, sangat biasa, penuh dengan cinta, perdebatan, kadang berantem, tangisan, sama seperti hubungan kebanyakan. Ternyata semua itu memiliki maksud sendiri, agar lebih memahami pasangan. Berat ya? akan lebih berat jika kami terus-terusan memaksakan kehendak, karena batu dengan batu tidak akan pernah jadi rumah. Dulu sekali saya pernah berpikir, kenapa harus saya yang mengerti, kapan saya akan dimengerti? Ternyata jawabannya mudah, mungkin ada yang salah dengan diri saya sehingga orang lain tidak mau mengerti kondisi saya.

Hmmm… sepertinya saya cocok menjadi Love Coach jika saya teruskan beberapa paragraf lagi 😛

So, terima kasih kepada istri saya yang cantik dan lucu, si penggemar kepik, dan kepik wannabe, untuk semua yang sudah kita lewati. Nanti kalau Lemon sudah besar kita ajak dia terbang ke Rumah Nenek ya 🙂

PS: Ternyata setelah punya anak, hasrat menulis saya kembali. Sering tiba-tiba merasa kangen, lalu ingin pulang 😀

Advertisements

5 thoughts on “Memoar Perjalanan Ketemu Lemon

  1. Ah Dwi..speechless nih.. Kamu laki2 yg baik. Semoga hanya maut yg bisa memisahkan kalian.. Jaga adikku ya, jaga Lemoni.. Love all three of you :*

  2. Maika Lemoni Amanda « misskepik's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s