Memoar Luka Seorang Perjaka

kamu pasti tidak tahu kan aku sedang melihat-lihat foto-foto masa lalu kita?
baru saja aku membaca blog-blog lama kamu yang kusimpan, untuk memanggil kupu-kupu itu lagi.
kamu pasti tidak tahu aku sedang tersenyum-senyum melihat wajahmu yang tampak bodoh
dengan kacamata berbingkai besar itu, yang kita beli waktu jalan sama diko sama monik
di detos, sesudah makan fetuccini. Waktu yang membuat kita sama-sama tertawa hanya karena
‘fetuccini’ itu.

kamu pasti tidak tahu bagaimana rasa memikirkan kamu yang bandel sekali, kamu yang sedang sakit,
kamu yang susah sekali minum obat, kamu yang keras kepala, kamu yang memprihatinkan, kamu yang
tak bisa bilang setiap kali kamu merasa tidak enak dengan orang-orang di sekitarmu. Kamu yang
cuma bisa marah kepadaku.

Kamu pasti tidak tahu bagaimana rasa memikirkanmu yang susah tidur dan kecapean tetapi masih
keras kepala tidak mau tidur juga. Sampai kapan sayang? sampai beberapa bulan ke depan hingga
kita bisa berpelukan tiap malam? Tidak sayang, badanmu tidak bisa dipaksa menuruti keinginanmu.

Mungkin kita sudah melebihi batas untuk menahan semua yang menghalangi kebersamaan kita?
mungkin kita sudah sangat-sangat lelah, kita sudah tak mampu lagi untuk mempercayai mantra kita:
semua akan baik-baik saja? Sudah sebegitu lelahkah jiwa kita?

Tidak sayang, kita masih memiliki sepetak ladang untuk kita garap, kita akan tanami rumput teki, kangkung, dan

ganja. kita akan duduk di teras tiap sore melihat anak-anak kita berkejaran, kita akan memasak sayur dari
ladang kita kelak, kita akan hidup seribu tahun lagi untuk menebus semua kelelahan ini.

Kamu pasti tidak tahu, ada air mata yang tak pernah tumpah ketika kupandangi gambarmu, tiap kali
kamu bertanya ‘kenapa?’, kenapa aku seperti itu? kamu adalah gadis bodoh yang tak tahu bagaimana
menghadapi orang gugup dan kaku semacam aku, yang tak pernah berhasil mengungkapkan sayang sebesar
yang kurasakan sebenarnya. Yang mampu aku bilang selalu jauh lebih sedikit dari apa yang kurasakan.

kamu selalu jadi bagian menggelitik di hatiku, aku selalu berdoa semoga rasa-rasa geli semacam ini tak akan
hilang hingga aku mati. Aku mencintaimu gadis kecilku.

Advertisements

4 thoughts on “Memoar Luka Seorang Perjaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s