Hari ini Lemon berusia setahun. Tahun lalu tanggal 29 Desember, beberapa hari sebelum due date, Lemon lahir lewat operasi c-sect. Waktu itu saya sudah minta kepada dokter untuk ikut menemani proses kelahiran yang bagi kami sangat sakral. Beberapa menit sebelum operasi saya bertemu dengan si dokter dan saya dipersilahkan menunggu sebentar sementara tim dokter bersiap-siap. Beberapa menit kemudian saya dipanggil oleh suster, saya pun dengan bergegas menuju ke ruang operasi, tetapi baru sampai pintu, diberi ucapan selamat oleh dua orang suster yang mendorong kereta tempat berbaringnya seorang bayi berbadan bongsor yang kemudian kami panggil dia Lemon.
Whaatttt?? Saya dibohongi oleh Dokter Daniel! Katanya boleh menemani operasi, tetapi ternyata tidak. Saat itu saya sudah tidak memikirkannya lagi, tapi nanti akan saya tanyakan kepada si Dokter. Akhirnya setelah mengadzani, kemudian tentunya mengambil foto untuk dikirim ke bapak mertua, dan bapak ibu saya di rumah (oiya, saya cuma ditemani oleh Ibu mertua) serta kepada kawan dan kerabat, saya menunggu istri dan anak saya di kamar.
Peristiwa hari itu masih tercetak jelas, karena terus terang kami sudah tidak banyak berharap akan kondisi Lemon mengingat proses kehamilan ibunya sungguh-sungguh lain dari kebanyakan. Tetapi Tuhan beserta alam semesta-Nya berkata lain, seorang bayi sehat hadir melengkapi keluarga kecil kami
Sesudahnya; seperti kebanyakan orang tua newbie, kami begadang tiap malam, mencoba mencari tahu banyak hal soal menjadi orang tua yang baik, melakukan kesalahan, mencari tahu cara memperbaikinya, hingga lambat laun kami sampai di sini, Lemon berumur satu tahun.
Anak ini sekarang sudah ‘banyak akal’, mulai belajar berjalan, mulai makan nasi, mulai bilang ‘papa wawa, mama wawa’ dan perkataan lucu lain yang entah dia enkripsi dengan metode apa, sehingga sulit sekali mengerti apa maksud perkataannya. Lemon juga mulai menirukan apa saja yang dia lihat atau dengar, mulai bisa menggelengkan kepala ketika tidak mau, mulai merengek, dan ‘ngeyel’.
Proses yang sudah kami lewati ini sepertinya bukan melulu soal Lemon; tetapi soal kami sebagai orang tua. Ternyata, banyak sekali perbedaan antara melajang/menikah tanpa anak, dan menjadi orang tua. Perbedaan yang paling saya rasakan adalah perhitungan dan pemikiran panjang sebelum melakukan sesuatu; ini saya sadari baru-baru ini saja (bisa dibilang beberapa hari yang lalu).
Dulu, semasa masih lajang, pengen melakukan apa pun tinggal jalan, tidak perlu banyak pikir, sekarang ingin berbuat sesuatu pasti terpikir kalimat-kalimat semacam: “jangan sampai anakku seperti itu” atau “moga-moga anak gue juga bisa kaya gitu” atau “seandainya orang itu anakku, pasti aku ga akan begini/begitu” atau “duh, jangan sampai anak gue ngikutin kelakuan gue yang kaya gini” dan kalimat-kalimat senada. Ketika melihat kebaikan, saya pengen anak saya juga bisa melakukannya, ketika melihat keburukan saya berharap jangan sampai anak saya seperti itu. Ternyata, naluri orang tua saya baru saja muncul, dan menunjukkan hal hal yang “boleh” dan “tidak boleh” secara alami.
Satu hal yang ternyata benar, setiap orang tua tidak ingin anaknya merasakan kesusahan yang sama.
Lemon, selamat ulang tahun yang pertama, terima kasih telah mengajari bapak dan ibu banyak hal.

4 Comments
MAIKA LEMONI AMANDA ? RIGHT ?
HAPPY BIRTHDAY DEAR
tambah ginuk-ginuk, cepet jalan, nanti kita lari-lari di kebon binatang yuk nak :p
tambah pinter ngomong ya wahihihi
Yeah right! Makasih tante Ipi, moga2 Lemon besok dapet bakat hoki sebagai pemenang kuis2 ya.
\m/ salam metal!
Selamat ulang tahun lemon,
Terima kasih Pak Dhe Juragan